The Wounded Soul (1)

 

the-wounded-soul

Poster by Jungleelovely Poster Channel

 

Cast : Oh Sehun (EXO)

Kang Sojin

Other Cast : Chanyeol, Kai, Krystal, Go Youngwook, ETC

Author : Jongchansshi

Genre : Marriage Life, Romance, Psychology

Rating : PG17

Disclaimer : Fanfiction that made just for fun. I dont get any profit or financial advantage. so dont sue me.

***

Oh Sehun

Katanya, hanya ada dua tipe lelaki tampan dan single di dunia. Kalau tidak brengsek, berarti homo. Lelaki yang mengenakan snelli dokter melapisi kemeja biru tua ini harus menjadi salah satunya. Ia baru keluar dari ruangan konsultasi beberapa menit yang lalu, mendapat banyak sekali tatapan mata dari orang yang kebetulan melihat.

Adalah Oh Sehun, psikiater baru di Sanghae Mental Hospital, baru 7 hari. Dari lekuk wajahnya, ia terlihat masih muda. Terlalu muda untuk menjadi psikiater yang biasanya sudah berumur kepala 4 atau lebih. Oh ya, tentu saja dia terus dibicarakan dan menjadi topik terhangat di Sanghae Mental Hospital sejak hari pertamanya bekerja disana.

“Dunia memang tidak adil!” perawat yang sedang merumpi itu mengeluh setelah Sehun melewatinya dan teman temannya. “Bagaimana bisa ada manusia sesempurna itu?”

“Benar. Dia dari London, kan? Pantas wajahnya seperti pangeran Eropa. Ya Tuhan aku bisa gila membayangkan dia berbicara bahasa inggris dengan logat british. Pasti seksi sekali.”

“Tampan, masih muda, dokter lagi. Kau tahu siapa pasiennya barusan? Dia Kim Nana! Si artis cantik terkenal itur. Bagaimana kalau mereka saling jatuh cinta kemudian pacaran? Kau lihat kan bagaimana raut Kim Nana tadi? Dia terlihat bahagia. Padahal kan biasanya ia selalu murung.”

“Kau kebanyakkan menonton drama. Kim Nana kan sudah punya pacar. Biasanya yang secantik itu juga tidak tertarik dengan lelaki tampan. Duh, dokter Oh pasti jenius.”

“Dia tidak akan menjadi dokter di umur semuda itu kalau dia bodoh, kau idiot.” Perawat yang lebih senior itu menjitak dahi temannya yang kelewat lugu.

“Surga sangat memberkatinya.”

“Apakah dia punya kekurangan? Kurasa tidak.”

“Bagaimana mungkin ada orang yang tanpa celah seperti dia dan banyak sekali kekurangan sepertiku?”

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan agar menjadi kekasihnya? Bukankah sekarang banyak cerita novel tentang perawat dan dokter yang saling mencintai?”

“Tapi auranya dingin sekali, dia pasti sulit didekati.”

“Melihatnya wajah segarnya dari jauh saja sudah sangat cukup untukku.”

“Dia pasti gay.” Seseorang menimbrung pembicaraan 4 perawat itu, yang langsung diberikan tatapan kesal dan sinis dari keempat-empatnya. Mereka langsung bubar dan berbisik bisik karena gangguan si pria berpakaian olahraga, yang kerap kali kemari meskipun bukan pasien.

“Dasar perawat genit.” Go Youngwook menggerutu ketika melihat perawat perawat itu menjauhinya. Dia tidak mengambil pusing terlalu lama, karena tujuannya sering kemari hanya satu. Mengunjungi kamar nomor 124, seperti rutinitasnya tiap hari.

***

Jam makan siang, Sehun memilih untuk berdiam diruangannya dengan segelas Americano hangat dan sebungkus roti. Ia sama sekali tidak berselera untuk ke kantin ataupun makan makanan berat. Pria yang dibalut kemeja biru tua itu tengah membaca Laporan Psikiatrik pasien Kim Nana. Si artis cantik berumur 27 tahun penderita bipolar. Yang menjadi masalah terberat sekarang bukan karena setresnya yang tengah dalam kondisi parah karena diputusi sang pacar. Melainkan karena fakta bahwa dia sedang hamil 4 bulan. Untungnya, gadis itu mengatakan bahwa ia berusaha untuk tidak akan menggugurkan bayinya, meskipun perasaan bunuh diri sering memanggilnya.

Perfection is only illusion.” Sehun berkomentar ketika membaca catatan psikiatri sang pasien dan membandingkan dengan fakta yang tertulis di Internet. Gambaran tentang seseorang, apalagi idol, memang selalu tampak tiada cacat dimata masyarakat, meskipun kebenaran terkadang keterbalikan dari yang terlihat.

Karena bosan, Sehun akhirnya memilih keluar dari ruangannya. Pria itu menelusuri rumah sakit khusus kejiwaan yang hanya bertingkat dua dan berhalaman luas, untuk menghindari pasien bunuh diri dengan cara terjun dari lantai gedung apabila dibuat terlalu tinggi.Ia menundukkan kepalanya untuk menghindari berkontak mata dengan orang-orang, sedang malas untuk berbasa basi atau sekedar tersenyum, yang sialnya itu malah membuatnya menabrak sesuatu.

“Hi Tampan!” seorang perempuan dengan rambut acak acakan menyapanya, atau menggoda? Karena ia tengah mengedipkan mata dan tersenyum selebar mungkin kearah Sehun sembari memegang boneka dengan dot bayi yang tidak ada isinya. Sehun tersenyum canggung, dia kurang ahli dalam cara tersenyum pura-pura tulus. Bahkan temannya sering mengatakan kalau senyum Sehun lebih bisa dikatakan menyeringai.

Sehun baru saja mau berlalu karena berpikir dia tidak seharusnya punya urusan dengan perempuan ini, tapi perempuan itu langsung memegang lengannya dan memeluk tubuh tinggi tegap Sehun. “kau tampan sekali. Maukah kau menjadi suami dan ayah dari anakku? Kasihan dia. Dia tidak punya ayah.” Tanya gadis itu merengek sembari memeluk tubuh Sehun yang nyaman semakin erat, seperti tidak berminat untuk melepaskan sebentar saja.

Well, bahkan orang gila pun tahu mana yang tampan dan mana yang tidak.

Beruntung, ada suster yang menyaksikan dan langsung menarik perempuan itu menjauh, yang berakhir membuat si perempuan histeris dan mengamuk. “Apa salahku sampai kau mau memisahkanku dengan suamiku? Aku sudah menunggunya 10 tahun. Dasar perempuan jahat.”

Suster itu malah kena tampar si perempuan yang tengah dalam wahamnya. Sehun melongo, untung ia cepat sadar dan langsung mengunci pergelangan tangan perempuan dari belakang sehingga bonekanya terjatuh, alhasil pemberontakkan perempuan itu semakin menjadi, membuat beberapa kali hampir terlepas dari pegangan Sehun. Sementara perawat wanita itu nyaris mengamuk juga, tidak terima pipinya kena tampar meskipun itu memang risiko. Sehun segera memberikannya kode agar tetap gadis berseragam putih itu tetap tenang, tidak ada gunanya melawan pasien skizofrenia, omong-omong.

“Kau pembunuh! Kau yang membunuh anak kita. Kau pasti menjadi budak setan dan perempuan selingkuhanmu itu kan?” tuduhnya untuk Sehun. Dia terus memberontak dan mencoba melepaskan diri dari kurungan Sehun, pria tampan itu pasti akan mendapatkan cakaran disekujur wajahnya apabila pasien ini lepas. Sudah dapat diperkirakan.

“Sebenarnya aku ini calon suamimu atau sudah menjadi suamimu?” Tanya Sehun tenang. Tapi pertanyaan bodohnya membuat si perempuan berhenti mengamuk, terlihat berpikir keras sampai melamun. Kemudian ia tertawa genit.

“Masih calon suamiku ya? Jadi, kapan kita menikah?”

“Kau maunya kapan?” Tanya Sehun setenang sebelumnya. Wajar apabila ia tidak sekaku tadi, ia sudah memegang suntikan berisikan cairan taxilan ditangannya.

“Bagaimana kalau…” perempuan itu sudah tertidur duluan sebelum sempat melanjutkan kalimatnya yang terkesan bahagia, menamatkan halusinasinya dengan cerita gantung. Perawat yang tadi kena tampar akhirnya bernapas lega, berikut perawat lelaki yang tadinya membawakannya suntikan. Kalau jam makan siang, daerah tertentu rumah sakit memang begitu sepi. Bukankah pasien seharusnya berkumpul untuk makan siang? Baik sendiri sendiri dikamar inap masing-masing atau ditempat berkumpul yang disediakan.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya ke si suster muda bernametag Lee Soohyun itu, setelah si perawat lelaki membawa perempuan skizofrenia kembali keruangannya. “Thanks for helping.”

Perawat yang masih gadis itu malah terdiam, ia semakin terpana terhadap Oh Sehun setelah mendengarnya mengucapkan terimakasih, terlebih lagi itu tertuju untuk dirinya, teman-teman perawatnya pasti iri apabila mengetahui hal ini. Ditambah ia melihat secara langsung bagaimana Oh Sehun menenangkan si pasien tadi dengan cara yang begitu keren. “Tidak Dokter, kau yang telah menolongku”

Sehun hanya tersenyum hambar, “kalau begitu, aku duluan.” Ucapnya pamit sebelum meninggalkan perawat muda itu berfangirling tentang dirinya dalam hati.

“Sudah tampan, keren, baik pula. Aku bisa ikut menjadi pasien sakit jiwa apabila dia begini terus!” gumamnya pelan. Ia teringat tentang pasien yang menamparnya tadi beberapa saat kemudian. Wajahnya langsung cemberut dan memegang pipinya yang tiba-tiba terasa sakit. Sungguh, tadi benar benar tidak terasa apa-apa saat dokter Oh masih disini. “Dasar perempuan gila sialan!”

Apakah salah kalau perawat itu iri terhadap perempuan tadi? Dia bisa memeluk tubuh menggoda Psikiater Oh!

***

Kang Sojin

Gadis itu mau tidak mau harus menyelesaikan tidurnya ketika si perawat menyuruhnya bangun untuk makan siang dan minum obat. “Aku tidak pernah mengamuk, kenapa aku tidak boleh keluar dari sini?” dia selalu menanyakan pertanyaan yang sama, hampir tiap kali si perawat lelaki yang bernama Moon Taeil itu mampir keruangannya.

“Dokter Lee belum memberikan izin untuk keluar.” Balasnya polos. Pria itu melirik seluruh bagian kamar nomor 124 tersebut, sama sekali tidak berantahkan seperti kamar pasien yang lain. Ditambah keadaan pasien yang tengah duduk ditempat tidurnya itu benar-benar terlihat normal, tidak seperti pasien skizofrenia parah yang seharusnya tidak bisa merawat diri sendiri. Ayolah, Moon Taeil tentu saja keheranan kenapa gadis ini harus mendekam disini selama hampir 3 bulan, dia tidak terlihat memenuhi satu-pun syarat untuk menjadi pasien rawat inap.

“Ya. Tentu saja dia tidak mengizinkanku keluar. Dia dibayar untuk mengurungku disini.” Ia mengeluh sinis. Sojin bukan pasien pertama yang suka membuat tuduhan tak berdasar untuk para dokter ataupun perawat. Setengah lebih pasien Skizofrenia mungkin pernah begitu.

“Makanya. Segeralah sembuh agar bisa keluar.”

Gadis itu berdecak sebal, “apakah aku terlihat sakit?”

Taeil menggeleng, ia memasukkan manset tensimeter digital yang dibawanya ke tangan si gadis, “kau terlihat sangat baik-baik saja.” Jawabnya. Entah itu benar-benar jujur atau dia hanya mencoba menyenangkan hati Sojin. Tapi Taeil sudah sering mengunjungi kamar Sojin pun berbicara dengan gadis itu, dia bisa merespon serta mengingat beberapa hal dengan baik. Tapi, bukankah Psikiater selalu lebih tahu? Pasien sakit jiwa adalah yang paling pintar menipu.

“aku memang tidak gila…”

Taeil hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan langsung mendapati topik baru ketika dia melihat angka yang tertera pada layar tensimeter, “tekanan darahmu terlalu rendah. Aku akan menanyakan dr Lee mengenai obatmu.”

Sojin menghela napas berat, mendengar kata ‘obat’ membuatnya menjadi mual. “Obat-obatan yang diberikan Psikiater sialan itu malah membuatku sering berhalusinasi.”

Satu alis Taeil terangkat sembari memandang gadis dengan piyama biru garis garis putih dihadapannya. Ia memang memiliki kecurigaan berlebihan terhadap dr. Lee, satu satunya ciri yang paling nyata kalau dia menderita skizofrenia. Tapi tetap saja, itu belum bisa dikategorikan parah. Atau haruskah Taeil mempercayai Kang Sojin daripada Psikiater senior Lee? “Aku bisa gila sungguhan kalau terus menerus disini.” Rintihnya. Wajah pucatnya menunjukkan keputusasaan yang kentara.

Taeil menatap gadis cantik itu prihatin, “Bertahanlah. Kau akan keluar ketika saatnya kau harus keluar.”

“Dan saat itu seharusnya sekarang.”

Taeil tersenyum lembut sembari memberikan Sojin nampan berisikan makan siangnya, “sebentar lagi. Kau pasti keluar sebentar lagi.”

Gadis itu memindahkan nampan makanan yang tadinya sudah berada dipangkuannya kembali ke meja dekat tempat tidur. Ia memegang tangan Moon Taeil dan menatap manic matanya lamat-lamat, “perawat Moon?” panggilnya. Pria itu menjadi kikuk, sangat amat kikuk ketika mendapati mata si gadis menatapnya seinsten itu dengan genggaman tangan seperti sekarang. Dan sialnya, gadis itu terlihat tidak kalah cantik dari model seksi yang ia lihat di TV-TV ketika dilihat pada jarak sedekat ini. Apakah salah jika jantungnya berdetak lebih cepat? “maukah kau menikah denganku?”

“Hah?” Taeil tentu terkejut dengan ajakan yang sangat tidak masuk akal itu, masuk akal kalau diajukan oleh orang tidak waras.  Dia berpikir kalau Sojin hanya bermain-main, tapi melihat bagaimana mata berbinarnya menatap Taeil penuh harap, pria itu merasa bahwa ia sungguhan dengan ajakan gila tersebut. Masih dengan gerakan canggung, ia melepaskan pelan-pelan genggaman Kang Sojin. “Maaf, tapi aku sudah punya tunangan,” tolaknya tidak enakkan. “Sungguh, ini karena aku sudah memiliki pacar.” Lanjutnya lagi setelah mendapati tatapan gadis itu berubah menjadi murung. Yeah, tentu saja karena dia sudah memiliki pacar selama 8 tahun. Mungkin ia akan mempertimbangkan untuk menikahi Kang Sojin betulan kalau dia sedang dalam status single dan frustasi ingin segera menikah.

“Tidak apa-apa.” Balas Sojin, berusaha sesantai mungkin karena ini merupakan penolakan yang kesekian kali.

“Kalau begitu aku permisi dulu. Jangan lupa memakan makananmu.”

“Ya.”

Pria itu meninggalkan kamar Sojin dengan ragu-ragu. Dalam relung hatinya yang paling dalam, dia merasa takut kalau Sojin akan melakukan tindakkan nekat seperti percobaan bunuh diri. Well, semua pasien gangguan jiwa selalu memiliki kecendrungan melakukan tindakkan bodoh apabila tidak dapatkan yang mereka inginkan.

Setelah Taeil pergi keluar dari ruangannya, Sojin menggigit kukunya karena frustasi. Ini adalah kali kesekian dia ditolak. Dia bahkan sudah menawarkan hal yang sama pada satpam rumah sakit, tapi dia ditolak karena alasan si satpam sudah punya istri dan 4 orang anak yang semuanya masih kecil. Ayolah, Sojin juga tidak berminat menghancurkan rumah tangga orang.

Setidaknya mereka menolak dengan cara baik baik, tidak peduli itu alasan yang sebenarnya atau karena mereka memang tidak sudi menikah dengan orang gila. Tidak seperti si dokter umum yang ditawarinya satu minggu lalu, itu adalah penolakan yang akan ia ingat seumur hidup. Karena si dr, Han Sekyu brengsek itu tidak hanya mencaci maki dan merendahkannya. Han Sekyu juga hampir melakukan tindakan kekerasan seksual terhadapnya, beruntung dia berhasil selamat dan meloloskan diri waktu itu.

***
Sehun melihat jam digital yang terpajang diatas meja. Sudah pukul 7 malam, shift kerjanya sudah berakhir sejak 2 jam yang lalu. Pria itu akhirnya membereskan snelli dan juga barang-barang yang harus ia bawa pulang. Sayangnya, pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Gadis yang muncul dari balik pintu itu terlihat jauh lebih terkejut dari dirinya. “Kupikir tidak ada orang.” Komentarnya. Satu alis Sehun terangkat, menunggu gadis itu keluar dari ruangannya. Tapi dia malah menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ia izinkan. “Aku boleh menumpang mandi disini, kan? Dikamar mandiku terdapat ‘mata mata’” ceritanya kikuk.

Karena tidak mendapati respon apapun dari Oh Sehun, gadis yang tampak gelisa itu langsung berjalan ke kamar mandi. Ditangannya sudah lengkap handuk dan juga baju ganti. “Kau pulang saja. Aku tidak akan menyentuh barang barangmu.” Ucapnya santai.

Siapa yang bisa menjamin?

Sehun masih diam saja ketika gadis itu menutup pintu kamar mandi. Ia ingin menghentikan gadis itu dan memintanya segera keluar dari ruangannya, kalau saja dia lupa bahwa dia bekerja di rumah sakit jiwa dan gadis tadi mengenakan piyama biru garis-garis, yang menandakan bahwa dia adalah seorang pasien. Berurusan dengan orang tidak waras selalu membutuhkan waktu lama, maka dari itu ia memilih membiarkan.

Sehun duduk dan menyender dimejanya yang tidak begitu ramai dengan kedua tangan terlipat didepan dada. Pandangan matanya tidak berhenti kearah pintu kamar mandi yang terdengar suara air mengalir dari dalam sana. Diotaknya bercampur beragam banyak pikiran yang membuatnya ingin mengutuk diri sendiri. Pria muda itu seperti terhipnotis untuk terus memandang kearah pintu kamar mandi dengan perasaan kurang enak sampai akhirnya si gadis keluar dengan pkaian yang mirip sebelumnya dan juga handuk yang melapisi rambutnya yang basah. Berarti Sehun memang tidak salah lihat, gadis ini memang terlalu cantik dan terawat untuk ukuran pasien inap rumah sakit jiwa.

“Terimakasih atas kamar mandinya. Aku suka wangi sabunmu.” Ucapnya canggung, masih tidak mau melihat kearah Sehun.

Sehun tidak bisa mengontrol mulutnya yang terbuka karena keheranan setelah si gadis berjalan keluar, matanya masih mengekori sang pasien. Entah itu karena komentarnya yang kelewat lugu atau senyuman gadis itu yang manis sekali, membuat wajah kusut dan dinginnya sebelumnya terlupakan begitu saja. Sehun mendapati handphone yang tergeletak dimejanya berdering beberapa kali, menampilkan nama Park Chanyeol pada layar. Oh shit, dia nyaris lupa kalau punya janji dengan pria jangkung itu.

Sehun segera mengangkat tas ranselnya dan beranjak keluar. Dalam hati dia bertanya, “is she really forget me?”

***

“Oh Sehun masih 27 tahun dan sudah mendapat lisensi Psikiater? Yang benar saja.”

“Kau benar, sunbae. Dia jenius.”

“Yeah, seharusnya jenius seperti itu berpenampilan nerd. Tapi kenapa selera fashionnya kelas atas begitu? Gayanya mirip model terkenal.”

“Itu karena dia punya banyak uang.”

“Jangan jangan dia adalah dewa yang sedang menyamar jadi manusia.”

“Psikiater Oh benar-benar membuatku cemburu.”

“Kalau aku terlahir kembali, aku ingin menjadi dirinya.”

Tidak hanya perempuan yang suka membicarakan Sehun semenjak kedatangannya kemari, laki-laki pun juga. Pria itu berpura-pura tidak mendengar tentang apapun yang dibicarakan oleh beberapa perawat lelaki yang berdiri di pusat informasi itu. Sehun membalas segala ucapan mereka dalam hati. Hell no, dia tidak mungkin menjadi psikiater meskipun umurnya masih 27 tahun kalau dia tidak belajar mati matian dan merelakan waktu liburan untuk kelas short semester. Dia tidak lahir dan langsung menjadi jenius, itu semua karena ia berusaha dan bekerja keras. Semua orang yang melakukan hal yang sama dengannya berkemungkinan akan mendapatkan hal yang sama. Kenapa orang orang suka sekali memperlakukannya seperti ia bukanlah manusia biasa?

Ini memang bukan pertama kalinya Sehun mendapati respon berlebihan orang orang ketika dia baru pindah ke lingkungan baru. Yeah, mereka akan selalu membicarakannya habis-habisan diawal sampai akhirnya bosan sendiri. Tapi Sehun merasa risih, dia risih apabila orang orang membicarakannya bak dia orang aneh yang tidak seharusnya bergabung di lingkungan manusia normal.

Pria itu menghentikan langkahnya ketika mendapati seorang pria berpakaian olahraga berdiri di depan jendela kecil yang terletak di samping kamar 124. Lagi lagi-kamar itu.

“Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak menguntit lagi?” sindir Sehun datar.

Pria berpakaian olahraga itu kaget bukan main karena Oh Sehun menangkap basah dirinya sedang mengintip di kamar yang sama.  “Aku ingin menjenguknya…” jawabnya beralibi.

“Kurasa, aku telah salah membiarkanmu lolos kemarin…” Sehun langsung mencengkram tangan pria itu dan menariknya ke ruang keamanan. Dia sudah melanggar privasi rumah sakit dan juga privasi pasien.

“Lepaskan aku! Aku hanya ingin melihatnya sebentar. Apakah salah?”

“Salah karena kau mengintip dan berpikir mesum.”

“Darimana kau tahu?”

Sehun memutar bola matanya, orang idiot juga tahu hanya dengan melihat, “Your horny faced tells it all.”

“Tolong lepaskan aku. Aku janji untuk tidak akan melakukannya lagi.” Mohonnya.

“Kau juga mengucapkan janji yang sama dua hari yang lalu.”

“Kali ini aku serius!” ia terus memohon sambil meronta-ronta untuk terbebas dari Sehun. Sialnya, tenaga Sehun seperti lebih kuat sampai ia kewalahan dan pasrah untuk dibawa ke ruang keamanan, ia bisa kena sanksi pidana kalau begini. Sehun telah melewati residensi psikiatri selama 4 tahun, sudah terbiasa menghadapi manusia manusia kelewat agresif layaknya orang ini, bahkan lebih parah.

*

Setelah urusan tidak pentingnya dengan pria bernama Go Youngwook itu selesai, Sehun berpikir untuk kembali ke ruangan 124. Dia ditugaskan untuk menggantikan Psikiater Lee yang sedang keluar kota. Dan pasien yang selalu dikuntit Go Youngwook ini adalah salah satunya.

Sehun mengetuk pintu beberapa kali kemudian masuk keruangan itu. Ia dapat melihat seorang gadis yang sedang tertidur di kasurnya. Well, gadis yang sama dengan yang meminjam kamar mandinya tanpa persetujuan. Pantas saja dia menjadi korban fantasy kurang-ajar dari si penguntit mesum itu, she looked so pretty and clean.

“Aku sudah meminum obatku.”  Suara perempuan menginterupsi sebelum Sehun meninggalkan ruangan, yang membuat kakinya tidak jadi berbalik dan mematung ditempatnya, tertangkap basah sedang memperhatikan.

Gadis itu duduk di sisi ranjang dan memandang Oh Sehun dari atas sampai bawah berkali kali, matanya langsung berhenti pada ID card Sehun dalam beberapa waktu. Dr. Oh Sehun, M.D tercatat disana.

“Kau yakin seorang psikiater? Bukan pasien yang berpura pura menjadi dokter?”

Sehun menaikkan satu alisnya, heran dengan gadis ini yang tiba-tiba begitu sinis kepadanya.

“Kau betulan sudah meminum obatmu? Bukan menyembunyikannya dibawah tempat tidur?” tembaknya balik dengan nada suara datar, mengabaikan segala sesuatu yang berjalan dibenaknya, matanya memandang bawah tempat tidur yang terselip satu buah pil terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Mata gadis itu terbelalak dan dia menahan napasnya menyadari bahwa psikiater baru ini terlalu pintar untuk ia kelabuhi, apalagi ketika Sehun berjalan mendekat. “Kau pasien dr. Lee, kan?”

Kang Sojin mengangguk, seperti terhipnotis untuk bertingkah baik dihadapan orang ini. Atau karena dia bisa berakhir kalau masih mencoba beritikad buruk dalam keadaan kalah telak seperti sekarang. “Aku berhalusinasi parah apabila meminum obatnya.”

Sehun memungut pil bulat yang terjatuh tersebut Loxitane 4mg. Dosisnya ketinggian, pikirnya dalam hati.

“Kau merasa baik baik saja kalau tidak meminum obat?”

Gadis itu langsung mengangguk semangat. Berharap banyak kalau psikiater baru ini mau mempercayainya. “Aku bisa menjadi gila sungguhan kalau terus meminum obat. Percayalah padaku, aku belum gila.”

Ya, hanya belum gila. Mungkin sebentar lagi dia akan menjadi benar-benar gila kalau harus mendekam disini lebih lama.

“234 pasien lain juga berpikir tidak pernah gila.” Baru saja Kang Sojin merasa ada harapan, tapi harapannya harus hilang begitu saja seperti hari-hari yang lalu ketika melihat Sehun menyiapkan suntikan obat tidur. “Kau akan histeris apabila aku tidak melakukan ini.”

Gadis itu hanya bisa menatap Sehun dengan pandangan senduhnya yang sudah pasrah. “Yang seharusnya gila itu kau, bukan aku.” gadis itu berbicara lagi, dia hampir tertidur karena obat yang bereaksi di tubuhnya, “Oh Sehun.” bisiknya.

“Kau masih mengingatku, Kang Sojin?” tanya Sehun belagak kaget, dia mengeluarkan senyum hambarnya kemudian, tapi Sojin lebih dulu terlelap dalam mimpi buruknya. Ia menatap beberapa saat Kang Sojin yang tengah tertidur.“Kita bertemu lagi dengan kondisi yang sangat menguntungkanku.” Gumamnya pelan.

*** TBC***

 

Anggap aja Sehun tuh kayak cowok cakep banget yang ada disekolah, kampus, atau kantor kalian. Pas awal2 diliat emang enak dan asik banget keak yang wow serba perfect tapi lama kelamaan jadi biasa aja. Intinya Sehun DISINI tuh masih level manusia biasa kok. Ya, emang agak alay sih pendeskripsiannya diatas tapi gmn yaampoon Sehun emang parah banget cakepnya w sampe capex/helah.

Skizofrenia itu bahasa lainnya gila. Iya orang gila yang suka di jalan2 itu biasanya skizofrenia. Kalo kalian nonton its ok its love, itu Jo In sung juga skizofrenia. Kalau mau tahu lengkapnya skizofrenia cari google aja (?). Terus, orang gila/cacat mental dan salah satunya skizofrenia (kalau psikopat  ngga ya) biasanya dimaafin kalau melakukan perbuatan pidana. Maksudnya, dia bunuh orang bisa gamasuk penjara dan bebas dari hukuman. Tapi ya gitu, paling masuk RSJ. Nah, selain itu, pasien skizofrenia juga biasanya tuh gabisa melakukan perbuatan hukum atau seenggaknya terbatas karena ukurannya dia gabisa mengurus diri sendiri. Keak mgkn sim/atm dll dicabut. Makanya SOjin pengen banget nikah, soalnya WALI itu dibutuhin banget, terlepas dia gila beneran atau emang dijebak.

#source as tagged.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s